Thursday, July 2, 2015

e-Gamelan, Belajar Alat Musik Tradisional

Gadgetan – Electronic Gamelan atau disebut e-Gamelan adalah sebuah aplikasi iOS yang diciptakan mahasiswa dan dosen universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, jawa tengah, Indonesia. Aplikasi itu sendiri menawarkan Anda untuk memainkan satu set lengkap instrumen tradisional Indonesia, yaitu Gamelan Jawa.
Udinus merupakan universitas IT berorientasi di Semarang. Tim e-Gamelan juga telah melakukan beberapa pertunjukan di luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, dan Taiwan. Untuk didalam negeri pertunjukan mereka biasanya dilakukan untuk menghibur Gubernur Jawa Tengah, dan pada bulan Oktober ini tim e-Gamlean akan melakukan pertunjukan di Istana Negara.
Salah satu anggota tim e-Gamelan Ikhsanuddin Mohammed Rahmatullah mengatakan bahwa tim ini telah dibentuk sejak dua tahun yang lalu. Mereka mengambil semua benda gamelan dan rekaman suara dari Sri Kuncoro Mulyo Gamelan di studio musik sejarah Indonesia, Lokananta di Surakarta. Proyek e-Gamelan sendiri sebenarnya dimulai oleh seorang dosen Udinus, yang kemudian dibuat menjadi gamelan modern oleh mereka. Rahmat juga mengatakan bahwa :

"Proyek inimerupakan penelitian fakultas. Kami berada di bawah badan penelitian dan pengabdian   kepada masyarakat. e-Gamelan dimulai ketika kami memenangkan kompetisi yang ditetapkan oleh Menteri Urusan Pendidikan dan Kebudayaan."

Konsep aplikasi e-Gamelan sendiri sebenarnya untuk kembali menyadarkan anak muda indonesia kepada budaya negeri sendiri, hal tersebut disebabkan karena anak Indonesia saat ini cenderung lebih menyukai budaya musik barat, dan alat musik tradisional Indonesia sudah dilupakan.

Kenalkan Budaya Nusantara Melalui Game

Jakarta (ANTARA News) - Pengembang lokal Dwi Hardyanto berusaha memperkenalkan budaya Indonesia lewat permainan Ghost Battle, yang menggambarkan pertempuran hantu-hantu lokal melawan hantu khas negara lain. 

"Angkat hantu untuk memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara unik dari sisi lain," ujar Dwi di Jakarta, Senin. 

Permainan yang menampilkan hantu-hantu lokal seperti tuyul, sundel bolong hingga leak itu mengantarkan Dwi menjadi juara Digital Creative Indonesia Competition 2014.

Selain mendapat Rp20 juta, mahasiswa jurusan informatika Universitas Brawijaya itu berkesempatan mengunjungi perusahaan seperti Google, Yahoo, YouTube dan Facebook di Silicon Valley, Amerika Serikat. 

April lalu, Dwi meluncurkan versi kedua game dengan variasi hantu lebih banyak. Ragam hantu lokal di game versi dua bertambah dari 16 menjadi 40 hantu.

Tingkat kerumitan permainan juga bertambah menjadi 70 level yang terbagi dalam tujuh dunia hantu.

Sejak diluncurkan, Ghost Battle 2 telah diunduh tiga ribu pengguna. 

"Pengunduhnya juga ada dari luar, memang targetnya internasional," kata pria asal Malang itu.

Robot Pembatik

Berita Teknologi. Batik merupakan karya seni yang sangat indah, mahal, ‘eksklusif’ karena sebanding dengan pengerjaannya yang memerlukan waktu lama. Itulah yang menginspirasi sosok guru SMK Agus Martoyo.

Agus Martoyo seharai-hari adalah seorang guru SMK yang mengampu mata pelajaran Elektronika dan Mesin di SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal dan SMKN 4 Jakarta.

Dia kerap kali mendengar keluhan pengusaha batik yang kesulitan dalam pembuatan pola batik, terutama ketika permintaan pasar tinggi tetapi tenaga pengrajin sangat terbatas.

Dari itu semua, dia mendapatkan ide untuk membuat robot yang dapat membantu pekerjaan mereka, dan pada Juni 2011 beliau mencoba merancang dan merakit sejumlah komponen elektronika dan hanya dengan waktu sekitar satu bulan robot tersebut berhasil dibuat.

“Robot itu kami namakan Robotika Machine 7NG-1110. Ini kami buat untuk mempercepat proses membuat pola secara langsung di atas kain tanpa menggunakan alat gambar manual,” kata Agus Martoyo, ketika mengikuti pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) 2011 di Alun-alun Kota Tegal, Minggu.

Menurut dia, dengan bantuan robot tersebut, pembuatan pola batik hanya memerlukan waktu 3 jam atau lebih cepat bila membuat dengan cara manual yang dapat memakan waktu sampai tiga minggu.
Menurut laporan dari AntaraNews, alat tersebut terdiri atas mesin komputer dilengkapi dengan basis vektor dan basis komputer “idea manufacturer” serta sebuah mesin yang berfungsi untuk mengaplikasikan pola batik seperti yang tertera di layar komputer ke lembaran kain, setelah pola terbentuk dibutuhkan software corel draw untuk mempermudah file yang akan dimasukan ke mesin tulis.

“Mesin itu juga dilengkapi dengan tempat untuk menampung cairan malam dengan berat anatara 10-15 gram, sehingga saat mesin dioperasikan maka cairan malam tersebut secara otomatis akan membentuk pola batik dalam kain yang terbentang dengan lebar maksimal 120×150 sentimeter,” katanya.

Alat tersebut berdaya listrik 300 watt dan pengoperasian dikendalikan melalui komputer. Menurut dia cara kerja robot ini sama seperti mesin bordir dan telaj diujicoba oleh sejumlah pengusaha batik di Kota Tegal dan sekitarnya. Rencananya robot tersebut akan dikembangkan lagi dan akan dijual dengan harga Rp40 juta per unit.